Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Asal-Usul Ikan Patin (Kalimantan Tengah)

Ikan patin adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini banyak dijumpai di sungai-sungai di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Bentuk ikan patin cukup unik. Badannya panjang dan berwarna putih dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Selain itu, ikan patin juga mengandung protein hewani yang cukup tinggi dan rasanya pun gurih. Meski demikian, tidak semua masyarakat Kalimantan Tengah mau memakannya.Mengapa demikian? Temukan jawabannya dalam cerita Asal-Usul Ikan Patin berikut ini!

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Si Suami bernama Labih, sedangkan istrinya bernama Manyang. Walau hidup miskin, mereka senantiasa hidup rukun, damai dan bahagia. Keduanya saling menyayangi. Ke mana saja pergi, mereka selalu berdua dan saling membantu dalam setiap pekerjaan. Ketika Labih ke hutan mencari kayu atau mencari ikan di sungai, istrinya selalu menyertainya. Sudah hampir sepuluh tahun mereka menjalani hidup berdua tanpa kehadiran seorang anak. Mereka setiap hari berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang untuk mengisi hari-hari mereka. Namun, sebelum mendapatkan anak, Manyang meninggal dunia karena sakit. Maka tinggallah Labih seorang diri. Hidupnya pun semakin terasa sepi.

Labih adalah seorang suami yang sabar. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Meski demikian, ia tetap tekun dan rajin bekerja. Sejak ditinggal mati istrinya, ia tetap menjalani hidupnya seperti biasanya. Setiap pulang dari hutan mencari kayu bakar, ia selalu meluangkan waktunya mencari ikan di sungai untuk dijadikan lauk. Begitulah kegiatan Labih setiap hari hingga ia menjadi seorang kakek.

Pada suatu hari, Labih pergi memancing ikan di Sungai. Setelah memasang kailnya, ia duduk sambil menunggu ikan memakan umpannya. Hari itu, ia sangat berharap bisa mendapatkan ikan, karena persediaan lauk untuk makan malam sudah habis. Dengan penuh harap, ia bersiul-siul sambil memegang gagang kailnya. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba gagang kailnya bergetar. Ia pun segera menyentakkan dan menarik kailnya ke tepi. Alangkah kecewanya kakek itu saat melihat benda yang menggantung di ujung kailnya.

“Wah! Aku kira ikan besar, ternyata hanya ranting kayu,” gumam Labih seraya melepas ranting kayu itu dari mata kailnya.

Setelah itu, Labih kembali memasang kailnya dengan umpan yang lebih besar dengan harapan bisa mendapatkan ikan yang besar pula. Sudah berjam-jam ia memancing, namun belum seekor ikan pun yang memakan umpannya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menunggu pancingnya. Ia menyadari bahwa pekerjaan memancing membutuhkan kesabaran.

“Ah, aku tidak boleh putus asa. Aku harus menunggu sampai mendapatkan ikan,” gumam Labih seraya melemparkan kailnya ke tengah sungai.

Ternyata benar, kesabaran Labih membuahkan hasil. Tidak berapa lama setelah ia melemparkan kailnya, tiba-tiba seekor ikan besar melahap umpannya. Ikan itu menarik kailnya ke sana kemari hendak melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga, ia pun segera menarik dan mengangkat kailnya ke tepi sungai. Betapa gembiranya hati Labih saat melihat seekor ikan terkail di ujung kailnya. Ia sangat takjub, karena selama bertahun-tahun memancing di sungai itu baru kali ini ia memperoleh ikan sebesar itu. Setelah ia amati secara seksama, ternyata ikan itu adalah ikan patin.

“Waaah, besar sekali ikan patin ini! Dagingnya pasti gurih dan lezat,” ucapnya dengan takjub.

Setelah itu, Labih pun memutuskan untuk berhenti memancing, karena merasa ikan itu sudah cukup untuk dimakan selama beberapa hari. Begitulah setiap kali Labih memancing, ia tidak pernah mengambil ikan di sungai itu lebih dari cukup. Sebab, ia menyadari bahwa besok atau lusa ia akan kembali lagi memancing di sungai itu. Akhirnya, dengan perasaan gembira, Labih membawa pulang ikan patin itu ke rumahnya lalu meletakkannya di dapur. Kemudian ia segera mencari pisau hendak membelah ikan itu. Namun, pisau yang biasa ia gunakan membelah ikan ternyata sudah tumpul. Ia pun segera mengasah pisau itu di atas batu yang berada di samping rumahnya.

Alangkah terkejutnya Labih setelah kembali ke dapurnya. Ia mendapati seorang bayi perempuan mungil dan cantik. Wajah bayi itu tampak kemerah-merahan. Bulu matanya lentik dan rambutnya sangat hitam dan ikal. Melihat bayi itu, Labih menjadi bingung dan gugup ingin menyetuhnya, karena selama hidupnya belum pernah mengurus bayi. Ia berusaha untuk menepis perasaan gugup itu dan meyakinkan dirinya bahwa bayi itu adalah titipan Tuhan yang diamanatkan kepadanya untuk dirawat yang harus ia syukuri. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk merawat bayi itu dan memberinya nama Leniri.

Ketika Labih hendak mengangkat dan menimang-menimangnya untuk dimandikan, Leniri tersenyum. Labih pun membalasnya dengan senyuman kasih sayang. Namun, ketika Labih memandikannya, Leniri tiba-tiba menangis dengan keras.

“Oaaa... oaaa... oaaa...!

Labih pun segera menghiburnya sambil mengusap-usap keningnya.

“Cup, cup, cup! Leniri anakku, diamlah!”

Leniri pun terdiam dan kembali tersenyum. Usai memandikannya, Labih menghangatkan tubuh Leniri dengan sehelai kain, lalu membuatkannya bubur dan menyuapinya sesuap demi sesuap. Setelah Leniri kenyang, kakek itu membuatkannya ayunan di tengah-tengah rumah. Perlahan-lahan, ia mengayun Leniri sambil bersenandung.

“Leniri sayang, anakku seorang... Cepatlah besar menjadi gadis dambaan...”

Tak berapa lama Leniri pun tertidur pulas dalam ayunan mendengar senandung Labih.  Sejak itu, Labih merawat dan membesarkan Leniri dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang melimpah. Saat Leniri beranjak remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tak lupa pula ia menanamkan budi pekerti kepada putri kesangannya itu. Bahkan, seringkali ia mengajaknya mencari kayu bakar di hutan dan memancing ikan di sungai untuk mengenalkan alam secara lebih dekat kepadanya.

Waktu terus berjalan. Leniri tumbuh menjadi gadis cantik dan berbudi, penurut, dan rajin membantu ayahnya. Ia juga pandai bergaul dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya. Ia pun menjadi dambaan semua pemuda di kampung itu.

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan yang bernama Simbun hendak melamar Leniri.

“Permisi! Bolehkah saya masuk?” seru Simbun dari depan rumah.

“Silahkan, Anak Muda!” jawab Labih yang sedang duduk bersantai bersama Leniri.

Setelah anak muda itu duduk, Leniri pun segera masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman. Sementara itu, Labih segera mempersilahkan pemuda yang belum dikenalnya itu untuk duduk.

“Anak Muda, Engkau ini siapa?” tanya Labih.

“Maaf, apabila kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan. Nama saya Simbun. Saya berasal dari kampung sebelah,” jawab Simbun.

“Ada yang bisa kubantu, Simbun?” Labih kembali bertanya.

“Sebenarnya, maksud kedatang saya kemari ingin melamar putri Tuan yang bernama Leniri itu. Jika diperkenankan, saya berjanji akan membahagiakannnya, Tuan,” ungkap Simbun.

Mengetahui maksud kedatangan Simbun, Labih terdiam sejenak. Ia ragu untuk memberikan jawaban, karena putrinya adalah keturunan ikan patin. Ia tidak ingin asal-usul putrinya yang selama ini dirahasiakannya diketahui oleh orang banyak. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya Labih memberi jawaban.

“Baiklah, Simbun! Aku bersedia menikahkanmu dengan Leniri, tapi kamu harus memenuhi satu syarat,” kata kakek itu.

“Apakah syarat itu, Tuan?” tanya Simbun penasaran.  

“Begini, Simbun! Sebenarnya, Leniri itu adalah keturunan ikan patin. Kakek menemukannya saat Kakek sedang memancing di Sungai dua puluh tahun yang lalu. Jika kamu berjanji untuk tidak menyakiti hati Leniri dengan mengungkap asal-usulnya, maka kamu boleh menikahinya,” jawab Labih.

“Baiklah, Kek! Saya berjanji tidak akan menyakiti hati Leniri. Saya akan menyayanginya sepenuh hati,” ucap Simbun.

Akhirnya, Labih pun menerima lamaran Simbun. Tak berapa lama kemudian, Leniri pun keluar dari dapur sambil membawa minum untuk ayah dan tamunya.Usai menyuguhkan minuman, Leniri duduk di samping ayahnya sambil tertunduk malu-malu.

“Leniri, Anakku! Kenalkan anak muda ini, namanya Simbun. Kedatangannya kemari hendak melamarmu,” kata Labih.

”Iya, Ayah! Niri sudah mendengarkan semua pembicaraan ayah dengan Simbun.Niri yakin, semua keputusan Ayah adalah demi kebahagiaan Niri juga,” jawab Leniri.

Labih pun mengerti maksud jawaban dari putrinya bahwa ia pun menerima lamaran itu dan bersedia mengarungi kehidupan rumah tangga bersama Simbun. Akhirnya, Simbun dan Leniri pun menikah. Mereka hidup rukun dan berbahagia. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Ari.

Suatu hari, ketika Simbun akan berangkat bekerja, Leniri memintanya untuk menunggui Ari yang sedang tertidur di ayunan. Leniri  akan pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Hari itu, cucian Leniri cukup banyak, sehingga memakan waktu lama untuk mencuci dan menjemurnya. Hari menjelang siang, Leniri belum juga pulang dari sungai. Simbun pun mulai kesal menunggu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul istrinya. Namun, ketika ia hendak berangkat, tiba-tiba anaknya terbangun dan menangis keras. Ia pun bertambah kesal dan marah. Tanpa disadarinya, tiba-tiba ia berucap:

“Dasar! Ibumu memang keturunan ikan! Jika bertemu dengan air, pasti ia tidak mau berhenti!

Tanpa sepengetahuannya, Leniri telah kembali dari sungai dan mendengar ucapannya itu. Leniri pun tidak sanggup menahan air matanya, karena sedih. Ia tidak pernah menyangka kalau suaminya akan melanggar janji yang telah diucapkan ketika akan menikahinya.

“Tidak ada lagi gunanya aku tinggal di sini. Suamiku sudah tidak sayang lagi kepadaku,” gumam Leniri.

Usai bergumam, Leniri masuk ke dalam rumah dan mendekati putranya yang sedang menangis. Setelah menyusuinya, ia menghampiri suaminya.

“Bang! Jagalah anak kita baik-baik. Adik harus kembali ke tempat asal Adik di sungai. Abang telah melanggar janji Abang sendiri,” kata Leniri.

Simbun tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa bersalah dan sangat menyesal, karena telah menyakiti hati istrinya. Ketika ia hendak meminta maaf, Leniri sudah keburu pergi. Ia berusaha mengejarnya hingga ke tepi sungai, namun Leniri telah menjadi seekor ikan patin.

“Istriku! Kembalilah...!” teriak Simbun dari tepi sungai.

Namun teriakannya sia-sia. Leniri sudah berenang hingga ke tengah sungai dan menghilang. Sejak itu, Simbun harus merawat dan membesarkan anaknya seorang diri.

Demikian cerita Asal-Usul Ikan Patin dari daerah Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang hingga kini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat setempat. Cerita di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu: keutamaan sifat sabar dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat mengikari janji.

Pertama, keutamaan sifat sabar. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat sabar adalah hal yang penting dan diutamakan. Orang yang selalu bersabar dalam menghadapi berbagai masalah, maka kebaikan akan selalu bersamanya. Tuhan akan memberinya nikmat yang lebih baik dan lebih luas. Hal ini digambarkan oleh sifat dan perilaku Labih yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala permasalahan. Berkat kesabarannya tersebut, Tuhan pun memberinya seorang anak perempuan yang cantik bernama Leniri.

Kedua, akibat buruk dari sifat ingkar janji. Sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Orang yang ingkar janji, tidak hanya menyakiti dan mengecewakan hati orang lain, tetapi juga menyikiti hati sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengucapkan janji agar terhindar dari hal-hal yang dapat menyakiti hati sendiri dan hati orang lain. Hal ini terlihat dalam cerita di atas ketika Simbun mengingkari janjinya untuk tidak menyakiti hati Leniri. Akibatnya, Leniri pun pergi meninggalkannya, karena sakit hati.

Selain itu, sifat ini juga dipantangkan karena termasuk salah satu ciri orang munafik. Salah satu petuah amanah tentang sifat munafik ini disebutkan dalam ungkapan Melayu seperti berikut:

apa tanda orang munafik,
lidah bercabang, akal berbalik

(Samsuni/sas/148/06-09)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Nani Setiwati. 2003. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah 2. Jakarta: Grasindo.
  • Anonim. ”Budidaya Ikan Patin” Patinhttp://www.scribd.com/doc/6222857/Budidaya-Ikan-Patin, diakses tanggal 15 Juni 2009.
  • Effendy, Tennas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Riau: Bappeda Tingkat I Riau.

Posted By Unknown 11:02 PM

Sii Palui

 

Palui adalah seorang remaja laki-laki yang tinggal di sebuah desa di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Pada suatu hari, ia pergi menangkap kawanan burung yang banyak terdapat di atas pohon beringin di tepi sungai. Tanpa disadarinya, kawanan burung tersebut membawanya terbang tinggi ke udara.Bagaimana kawanan tersebut membawa terbang si Palui? Berhasilkah Palui menyelamatkan diri? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Paluiberikut ini.

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah sepasang suami-istri bersama empat orang anaknya yang masih berumur belasan tahun.Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sang Suami mencari ikan di sungai.Dalam mencari ikan, Sang Ayah biasanya dibantu oleh anak sulungnya yang bernama Palui.

Pada suatu hari, sang Ayah sakit, sehingga untuk mencari ikan Palui harus berangkat sendiri ke sungai. Sesampainya di sungai, Palui segera memasang jaringnya. Setelah itu, ia duduk di tepi sungai sambil menunggu ikan-ikan terperangkap jaringnya. Setelah beberapa lama menunggu, ia turun ke sungai untuk memeriksa jaringnya. Usai diperiksa, ternyata jaringnya masih tetap kosong. Palui memasang kembali jaringnya dan kemudian duduk di tepi sungai sambil bersiul-siul. Kali ini, ia membiarkan jaringnya terpasang agak lama dengan harapan bisa memperoleh ikan yang banyak. Namun, Palui benar-benar sial hari itu, di jaringnya tak seekor ikan pun yang terperangkap.

“Aneh, kenapa tak seekor ikan pun yang terperangkap? Jangan-jangan jaring ini robek,” pikirnya.

Setelah diteliti secara seksama, tak satu pun lubang yang ia temukan. Oleh karena kesal dan kecewa, akhirnya Palui memutuskan untuk berhenti memancing dan ingin beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon beringin yang berada di tepi sungai. Tengah asyik menikmati sejuknya hawa dingin di bawah pohon itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda kecil berwarna merah menimpa dirinya. Ketika menengadahkan wajahnya ke atas pohon, ia melihat buah beringin yang sangat lebat. Ada yang berwarna kuning dan ada pula yang merah. Saat akan mengalihkan pandangannya, tiba-tiba ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak.

“Hai, ada apa di balik ranting itu?” gumamnya.

Setelah diamati dengan seksama, ia melihat beraneka ragam burung seperti baliang, tingang, punai dan murai sedang makan buah beringin. Melihat kawanan burung itu, rasa sedih dan kecewanya sedikit terobati dan berniat untuk menangkapnya. Pohon beringin itu cukup tinggi. Namun hal itu tidak membuat Palui mengurungkan niatnya untuk menangkap burung-burung tersebut. Ketika akan naik ke atas pohon, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Ah, tidak mungkin aku bisa menangkap kawanan burung itu dengan tangan kosong. Tapi, dengan apa aku bisa menangkap mereka?” tanya Palui dalam hati bingung.

Setelah berpikir sejenak, Palui langsung teringat pada jaring ikannya.

“Ahah, kalau begitu, jaring ini akan kugunakan sebagai perangkap untuk menangkap kawanan burung itu,” gumamnya.

Dengan penuh semangat, Palui pun segera memanjat pohon itu sambil membawa jaring ikannya. Melihat kedatangan Palui, kawanan burung yang sedang berpesta makan itu merasa terusik dan langsung beterbangan meninggalkan pohon. Sementara Palui terus saja naik tinggi ke atas pohon dan segera memasang jaringnya mengintari ranting-ranting yang berbuah lebat. Ia mengingkatkan tali jaringnya pada batang bohon beringin dengan kuat. Setelah yakin benar bahwa jaring yang telah dipasangnya sudah kuat, ia pun segera turun dari pohon dan segera menuju ke jukungnya yang sedang ditambatkan di tepi sungai. Palui bermaksud pulang ke rumahnya dan membiarkan jaringnya di atas pohon itu. Ia mengayuh jukungnya sambil bersiul-siul membayangkan burung-burung itu terperangkap di dalam jaringnya.

Setelah dua hari, ia pergi memeriksa jaring perangkapnya. Dengan penuh harapan, ia mengayuh perahunya dengan cepat ke arah tepi sungai tempat pohon beringin itu berada. Sesampainya di bawah pohon beringin, ia pun menambatkan jukungnya pada sebuah batang kayu dan segera melompat ke darat. Dari bawah pohon beringin itu, ia melihat jaring perangkapnya sedang bergerak-gerak. Setelah diamati, ternyata banyak sekali burung yang terperangkap di dalam jaringnya. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung naik ke atas pohon. Sesampainya di atas, ia berdecak kagum melihat beraneka burung yang bulunya berwarna-warni, berukuran besar mapun kecil menggelepar-gelepar di dalam jaringnya.

“Waaah, indah sekali warna bulu burung-burung ini,” ucapnya.

Usai mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba Palui dihinggapi rasa bingung.

“Mau diapakan burung sebanyak ini?” gumam Palui.

Pada mulanya, Palui berniat untuk membunuh kawanan burung itu. Tapi karena sayang pada burung-burung tersebut, akhirnya ia  mengurungkan niatnya.Setelah itu, ia kembali berpikir bahwa seandainya burung-burung itu dibawa pulang, ia akan kesulitan membawanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memeliharanya. Ia kemudian memotong-motong tali panjang yang dibawanya dari rumah, lalu mengikat kaki burung-burung tersebut satu per satu dan mengikatkannya pada pinggangnya. Setelah sekeliling pinggangnya penuh, ia mengikatkannya pada anggota badannya yang lain.

Sementara mengikat burung yang lain, beberapa burung yang sudah terikat mulai mengepak-ngepakkan sayapnya hendak terbang. Ketika sedang mengikat burung yang terakhir, tiba-tiba Palui merasa tubuhnya menjadi ringan. Makin lama makin ringan. Tubuhnya kian mengambang dan terus  meninggi. Ia baru sadar bahwa dirinya diterbangkan burung ketika tubuhnya sedang melayang-layang di udara. Kawanan burung tersebut terbang menuju ke arah kampung tempat tinggal Palui.

Betapa senang dan gembiranya hati Palui. Ia tertawa bangga diterbangkan oleh kawanan burung tersebut.

“Kalian baik sekali, burung! Aku tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga untuk mengayuh jukungku pulang ke rumah,” kata Palui kepada burung-burung itu.

Semakin lama, Palu bersama kawanan burung itu terbang semakin tinggi. Palui sangat gembira bisa melihat pemandangan baru. Ia bisa melihat danau dan sungai yang terbentang dan berliku-liku.

Tidak jauh dari depannya, Palui melihat kampung tempat tinggalnya.

“Hai, itu kampungku!” seru Palui.

Saat berada di atas perkampungan, Palui kembali berteriak, “Itu rumahku!

Dalam hati, Palui berkata bahwa pasti ayah, ibu, dan adik-adiknya akan senang melihat dirinya terbang bersama burung-burung itu. Ketika kawanan burung itu terbang mendekat ke atas rumahnya, Palui melihat adik-adiknya sedang bermain-main di halaman rumah.

“Adik! Aku Terbang!” teriak Palui menarik perhatian adik-adiknya.

Melihat kakaknya terbang bersama kawanan burung itu, salah seorang adiknya berteriak, “Kak Palui! Aku ikut terbang!”

“Tidak usah adikku! Kakak sudah mau turun!” teriak Palui.

Palui kemudian menyuruh kawanan burung itu agar menurunkannya di halaman rumah. Namun kawanan burung itu tetap membawanya terbang berputar-putar di atas rumah-rumah penduduk. Palui pun mulai panik dan takut kalau-kalau kawanan burung itu membawanya terbang ke mana-mana.

“Tolong... Tolong...! Tolong aku, Ibu!” teriak Palui ketakutan.

Ibunya yang mendengar terikannya itu segera keluar dari rumah. Alangkah terkejutnya saat ia melihat Palui diterbangkan burung dan berteriak meminta tolong.

“Ibu... Tolong aku!” Palui kembali berteriak.

“Palui! Lepaskan ikatan burung itu satu-satu!” teriak Ibunya.

Palui pun menuruti saran ibunya. Ia segera melepaskan ikatan burung itu dari pinggangnya satu per satu. Setelah melepaskan ikatan beberapa ekor burung, ia pun mulai terbang merendah. Melihat hal itu, hati Pulai mulai lega. Kemudian ia melepaskan lagi ikatan beberapa ekor burung yang terikat pada anggota badannya. Akhirnya, Palui beserta beberapa burung yang masih tersisa jatuh di halaman rumahnya. Meskipun dirinya selamat, tapi jantung Palui masih berdetak kencang karena panik. Adik-adiknya pun segera menghampirinya.

“Hore... Hore... Kak Palui selamat!” teriak adik-adiknya dengan riang gembira.

Tak berapa lama, ibunya pun datang dan mendekatinya.

“Palui... Palui...! Kamu ini aneh-aneh saja kelakuanmu. Untuk apa burung-burung itu kamu ikatkan di tubuhmu. Untungnya kamu tidak dibawa pergi jauh oleh burung-burung itu. Makanya, kalau mau bertindak dipikir dulu akibatnya!” ujar ibunya.

Palui hanya diam sambil menunduk, karena merasa ia memang bersalah dan telah bertindak ceroboh.

“Maafkan Palui, Bu! Palui sangat menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,’ kata Palui.

Setelah itu, Palui minta minum karena merasa haus sekali setelah dilanda kepanikan. Usai minum, Palui meminta izin kepada ibunya untuk memanggang beberapa ekor burung hasil tangkapannya yang masih tersisa. Kemudian, ia segera menyembelih dan membersihkan burung-burung itu, sedangkan ketiga adiknya sibuk menyiapkan perapian. Setelah bersih dan perapian siap, Palui dibantu adiknya segera memanggang burung-burung itu. Beberapa saat kemudian, terciumlah aroma sedap yang membangkitkan selera makan.

Burung panggang pun siap untuk disantap. Palui bersama adik-adiknya segera menggelar lampit. Keluarga Palui duduk melingkar. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menikmati lezatnya burung panggang. Sang Ibu pun segera menghidangkan burung pangang itu bersama sambal terong asam dan nasi hangat. Mereka makan dengan lahap sekali. Meski demikian, tidak serta merta lauk lezat itu langsung habis. Burung panggang itu masih banyak yang tersisa, sehingga selama tiga hari Palui bersama keluarganya masih makan lauk yang sama, yakni burung panggang.

Demikian cerita Palui dari daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ganjaran yang diterima dari perbuatan ceroboh, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Palui yang bertindak tanpa memikirkan terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatannya. (Samsuni/sas/122/01-09)

Sumber:

Posted By Unknown 10:47 PM