Pembentukan Provinsi Kotawaringin

Filled under:


HASIL KAJIAN: Sejumlah pegiat Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kotawaringin (BP3K) Provinsi bersama Prof Sadu Wasistiono, saat penyerahan hasil kajian pemekaran di Swiss Belinn Pangkalan Bun, Minggu (13/4) malam.

SEMUA pihak yang terlibat dalam upaya pembentukan Provinsi Kotawaringin diharapkan tidak mengedepankan kepentingan kelompok ataupun daerah masing-masing.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Supriadi ketika dimintai komentar mengenai usulan pembentukan daerah otonomi baru (DOB) di Provinsi Kalimantan Tengah yang kini kembali menghangat.


Supriyadi mengaku mendukung penuh pembentukan provinsi yang melibatkan lima kabupaten, yakni Kotawaringin Barat, Seruyan, Sukamara, Lamandau, dan Kotim. Menurutnya, pemekaran provinsi sudah selayaknya dilakukan mengingat luasnya wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.
“Para kepala daerah harus mengedepankan kepentingan daerah dan masyarakat. Tinggalkan kepentingan wilayah masing-masing agar pemekaran tersebut dapat tercapai,” ujar Supriadi, Kamis (17/4).
 
Dia mengingatkan, pembentukan provinsi baru bukanlah tujuan akhir. Hal itu sedianya menjadi alat untuk menggapai tujuan utama, yaitu peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.  “Pemekaran bertujuan untuk memperpendek rentang kendali sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa lebih cepat dan maksimal. Luas Kalteng yang mencapai satu setengah kali luas Pulau jawa adalah salah satu kendala dalam percepatan pembangunan selama ini,” urainya. 
 
Seperti diberitakan sebelumnya, hasil kajian teknis menunjukan  pembentukan provinsi baru di wilayah barat Provinsi Kalteng dinilai sudah layak. Hasil kajian juga memperlihatkan Provinsi Kotawaringin diprediksi mampu berjalan secara mandiri. Di lain sisi, Provinsi Kalteng yang akan ditinggalkan juga akan tetap mampu bertahan.
Sekretaris BP3K Tingkat Provinsi, Indrawan Sakti, mengklaim pihaknya saat ini tengah intens mengusulkan agar pembentukan Provinsi Kotawaringin disetujui sebelum pemerintahan periode 2009-2014 berakhir.
 
Dia mengakui proses pengusulan DOB berbasis tahapan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, tergolong lamban.
 
Apalagi, Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustin Teras Narang terkesan enggan menanggapi wacana itu. Padahal, sejak 2013 kelima bupati di wilayah Kotawaringin telah menandatangani keputusan bersama yang juga ditembuskan kepada Teras.
Karena itu, BP3K mengupaya cara lain, yaitu lewat pendekatan aspiratif. Upaya ini dinilainya masih memungkinkan meski waktu yang dimiliki sangat singkat. “Hampir 90% DOB (Daerah Otonomi Baru) lewat pendekatan ini (aspiratif),” ujarnya. (HM/Baz/B-4)

Sumber: http://borneonews.co.id/index.php/head/item/13666-pembentukan-provinsi-kotawaringin-tanggalkan-ego

Posted By Suliy Ansyah 6:17 PM

Sejarah Kotawaringin Kembali Digali

Filled under:



TIGA PENELITI: Tiga peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, dari kiri Dra Juniar Purba MSi, Dra Hendrawati dan Dra Lisyawati Nurcahyani MSi, di kantor redaksi Borneonews-Palangka Post, Pangkalan Bun, Sabtu (5/4).

SEJARAH Kotawaringin kembali digali dan dipertanyakan. Kapankah kali pertama istilah Kotawaringin muncul? Siapakah sebenarnya Kiai Gede? Bagaimana mula penyebaran Islam di Kotawa-ringin? Budaya mana saja yang mempengaruhinya? Bagaimana tatanan nilai satu-satunya kerajaan yang sejauh ini diketahui bukti keberadaannya di Kalimantan Tengah ini? 
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba ditelusuri Tim Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, Kalimantan Barat, yang membawahi seluruh Kalimantan. Peneliti Sejarah Penyebaran dan Perkembangan Islam di Kotawaringin, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu menjadi tamu dalam diskusi di Kantor Redaksi Borneonews-Palangka Post, di Pangkalan Bun, Sabtu (5/4) pagi. Tim terdiri dari Dra Lisyawati Nurcahyani MSi, Dra Juniar Purba MSi dan Dra Hendrawati.

Hendrawati mengungkapkan mereka bermaksud melakukan penelitian seobjektif mungkin, yang hasilnya benar-benar mendekati kebenaran. “Sejarah itu penafsiran. Tapi minimal mendekati kebenaran,” ujarnya. Hal ini memang penting karena hasil dari riset ini, se­perti dijelaskan Lisyawati, untuk pelestarian nilai budaya yang sifatnya edukatif. “Golnya adalah pendidikan,” tegas Lisyawati. 

Namun, mereka menyadari, untuk menggapai maksud tersebut bukan pekerjaan mudah, mengingat masih banyaknya tabir yang belum terungkap dalam sejarah Kotawaringin. Dalam hal penamaan saja, bisa ditafsirkan secara kontroversial. “Satu yang jelas Kotawaringin itu yang menamakan bukan Pangeran Antakusuma,” ungkap Hendrawati. Dalam diskusi disinggung nama ini telah ada dua-tiga abad sebelum Kerajaan Kotawaringin berdiri, seperti tersebut dalam Kitab Negarakertagama sebagai wilayah di bawah naungan Majapahit. Merujuk sumber itu, sebelum Kerajaan Kotawaringin berdiri, wilayah Kotawaringin bisa diartikan bukan daerah tak bertuan.

Masih soal nama. Kotawa-ringin dahulu disebut Kuta-ringin. Yang jadi pertanyaan tim peneliti, penamaan ini karena pengaruh dari luar wilayah Kotawaringin atau memang bersumber dari khasanah lokal. Sepintas lalu, istilah Kutaringin, itu se­perti dari tanah Jawa. Namun, Lisyawati mengungkapkan kemungkinan lain. Pihaknya sedang menyelidiki kata Kuta yang menurutnya bisa jadi ada dalam khasanah bahasa Dayak.

Tabir lain yang belum jelas, misalnya, soal sosok Kiai Gede. Merujuk nama, kuat dugaan ia dari Jawa. Tapi, kata Lis-yawati, juga belum jelas kapan dan bagaimana sosok ini hadir di Kotawaringin. “Apakah dia asli atau pendatang. Dari Kaharingan atau memang Islam sejak awal.” Poin menarik yang dipaparkan tim peneliti, interaksi Kerajaan Kotawaringin de­ngan komunitas budaya di Kalimantan bagian Barat. Selama ini, Kotawaringin memang identik dengan Kerajaan Banjar. Tetapi dinamika masyarakatnya, ungkap Lisyawati juga berhubungan dengan wilayah bagian Barat, seperti dengan Melawi. 

Sumber: 
http://borneonews.co.id/index.php/hiburan/travelista/item/13299-kotawaringin-bukan dari-antakusuma

Posted By Suliy Ansyah 3:20 PM

Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Filled under:

Kesultanan Kotawaringin, satu-satunya kerajaan yang pernah ada di Prop Kalteng, bahkan masih terpelihara dengan baik. Bahkan semasa penjajahan Belanda, daerah ini luput dari rencana pengkristenan Dayak Besar. Hingga kini kita dapat melihat dan menyaksikan situs beserta benda-benda peninggalannya. Ternyata pendiriannya bermaterai darah manusia, termaktub dalam Panti Darah Janji Samaya.
Menyusuri Sungai Arut sepanjang ratusan kilometer yang membelah Kota Pangkalan Bun, sampailah kita di Kecamatan Kotawaringin Lama dengan Astana Al Noorsari-nya yang masih berdiri kokoh. Astana Al Noorsari adalah cikal bakal Kesultanan Kotawaringin sebelum pusat kekuasaannya pindah ke Pangkalan Bun tahun 1679 M/1171 H. 

Di daerah ini, kita juga masih akan menemukan catatan sejarah lainnya. Terdapat makam Sultan-sultan Kotawaringin yang bertulisan huruf Arab Melayu, makam Kyai Gede seorang tokoh penyebar agama Islam sekitar abad ke 16. Kita juga dapat menemukan bangunan Masjid Djami Kotawaringin yang masih terbilang kokoh, meski hampir seusia ketika Kyai Gede menyebarkan Islam di daerah ini.

Dan, menapak tilas satu-satunya kerajaan yang pernah ada di propinsi Kalteng ini, memerlukan waktu cukup panjang, satu setengah jam dari Kota Pangkalan Bun dengan transportasi speed boat. Tak cuma itu, karena membicarakan Kesultanan Kotawaringin yang masih memiliki benang merah dengan kerajaan Banjar, tidak boleh tidak harus merunut sejarah kerajaan Banjar hingga kekuasaan Belanda turut bercokol di daerah ini.

Seperti dituturkan Gusti Djendro Suseno yang masih keturunan Raja ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, keturunan Raja Banjarlah yang mula pertama membangun Kesultanan Kotawaringin.

"Kesultanan Kotawaringin memiliki benang merah sejarah sangat kuat dengan Kerajaan Banjar, hal itu tak dapat dinafikan," ungkap Djendro Suseno yang juga anggota DPRD Tk II Kotawaringin Barat dari Fraksi Golkar. Namun dalam perjalanan selanjutnya, tak terelakkan terjadi asimilasi atau percampuran dengan masyarakat setempat yang notabene adalah Suku Dayak.

Jadi menurutnya, tak dapat dipungkiri, masyarakat yang kini bermukim memenuhi seantero Kab Kotawaringin Barat, sebagian besar adalah juga anak cucu keturunan Suku Dayak. "Untuk mempererat jalinan kerjasama dan memantapkan kekuasaan, kala itu anak-anak kepala suku atau demang diambil sebagai istri mendampingi sang raja walau posisinya bukan sebagai istri pertama," imbuhnya.

Pangeran Adipati Anta Kasuma
Adalah Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar yang berputra lima orang, diantaranya empat orang laki-laki yaitu Pangeran Adipati Tuha, Pangeran Adipati Anum, Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional), Pangeran Adipati Anta Kasuma dan Puteri Ratu Aju. Karena masing-masing Putra Mahkota berminat menjadi Sultan sebagai pemegang tertinggi tampuk kerajaan, membuat sang ayah harus berpikir bijaksana.

Akhirnya, merasa bukan putra tertua, Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memiliki keberanian dan semangat tinggi untuk menjadi seorang pemimpin, bertekat pergi mencari tempat dan mendirikan kerajaan baru. Dan memang, Pangeran Adipati Tuha lah sebagai putra tertua yang akhirnya memegang tampuk kekuasaan kerajaan Banjar.

Dengan restu kedua orang tua serta pejabat-pejabat Kerajaan Banjar, berangkatlah dia beserta pengawal dan beberapa perangkat peralatan kerajaan. Menggunakan perahu layar kerajaan, bertolaklah mereka menuju arah barat menyusuri pesisir pantai. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak tempat yang disinggahi antara lain Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit dan Kuala Pembuang.

Rombongan Pangeran Adipati meneruskan pelayaran ke arah barat, sampai akhirnya mendarat di sebuah daerah, dinamakan Kuala Pembuang. Daerah ini sudah ada penghuninya yang juga berkiblat di bawah kepemimpinan Kerajaan Banjar, sehingga kehadiran rombongan yang bermaksud mendirikan kerajaan baru ini ditolak oleh masyarakat setempat.

Panti Darah Janji Samaya 

Tanpa mengenal putus asa, dengan semangat tinggi rombongan Pangeran Adipati kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanan tidak lagi menyusuri pantai tapi menuju hulu sungai hingga akhirnya sampai ke sebuah desa yang dinamakan Desa Pandau. Walau Desa Pandau telah dihuni masyarakat Suku Dayak yang dikenal dengan Suku Gambu, Arut, Anom, dan lainnya sebanyak sembilan macam suku, di bawah kepemimpinan Demang Petinggi di Umpang menerima kehadiran rombongan Pangeran Adipati.
 

Seperti juga tertulis dalam catatan sejarah "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Demang Petinggi sebagai kepala Suku Dayak menyerukan pada rakyatnya agar menerima rombongan Pangeran Adipati. Seruan Demang Petinggi ini didasarkan keinginan untuk mengangkat Pangeran sebagai raja tapi dengan syarat raja harus memperlakukan mereka bukan sebagai hamba, tetapi sebagai pembantu utama dan kawan terdekat atau sebagai saudara yang baik. Rakyat tidak akan menyembah sujud kehadapan Pangeran Adipati.

"Usulan ini ditimbang dan diterima baik oleh Pangeran dan seluruh rombongan," ujar Djendro diiyakan Gusti Rasyidin yang juga anak keturunan kesultanan ini. Selepas persetujuan itu, dari pihak Suku Dayak Arut mengusulkan agar perjanjian ini bukan sekedar di bibir saja, melainkan harus bermaterai darah manusia yang diambil dari seorang dari Suku Dayak Arut dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati Anta Kasuma.

"Perjanjian itu dinamakan Panti Darah Janji Samaya yang berarti perjanjian yang dikokohkan dengan tetesan darah yang bercampur jadi satu," ungkap Gusti Rasyidin yang ketika wawancara berlangsung ditemani Nurhadi dan Ahmad Yusuf di Astana Al Noorsari Kotawaringin Lama.

Dengan tersendat-sendat, coba dia paparkan bagaimana perjanjian bermaterai darah itu berlangsung. Menurutnya, memang agak sukar diterima oleh akal, hanya demi sebuah janji harus mengorbankan dua manusia. Namun demikianlah adat yang berlaku, maka masing-masing kedua belah pihak menarik salah seorang pengikutnya untuk dijadikan korban perjanjian.

Sebelum kedua calon korban berdiri siap untuk dikorbankan, mereka mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah. Batu ini sebagai bukti atau perlambang turun temurun saksi sepanjang masa telah terjadi ikatan persaudaraan antara Suku Dayak dengan rombongan Pangeran Adipati dari Kerajaan Banjar. Dengan melakukan upacara adat yang hikmat, kedua calon korban berdiri di samping batu saksi yang kini dikenal dengan "Batu Pertahanan". Calon korban dari Suku Dayak berdiri menghadap ke hulu asal datangnya dan calon korban dari rombongan Pangeran berdiri menghadap ke hilir menunjukkan asal kedatangannya.

Selesai upacara sumpah setia, Kepala Suku Dayak mencabut mandaunya dan ditusukkan menembus ke dada korbannya, darah pun memancur deras. Korban dari pihak Pangeran Adipati pun ditusuk sehingga kedua darah korban ini memancur bersilang dan menetes jatuh menjadi satu membasahi tanah. "Percampuran darah yang disaksikan kedua pihak inilah yang dimaksudkan untuk mempersatukan segala rasa dan pikiran dalam mewujudkan rencana bersama, membangun kerajaan," imbuh Rasyidin.

Terbentuk Kerajaan
Meski telah disepakati perjanjian antara kedua belah pihak, namun Desa Pandau masih dianggap belum cocok untuk membangun kerajaan baru. Kedua rombongan yang telah terpadu dalam "Panti Janji Darah Samaya" milir mengikuti aliran Sungai Arut, kemudian mudik Sungai Lamandau, mencari daerah paling pas untuk membangun kerajaan. Akhirnya, sampailah mereka di daerah yang meyakinkan yaitu Tanjung Pangkalan Batu yang kemudian hari dikenal sebagai Kotawaringin Lama. Berhentilah rombongan dan untuk beristirahat mereka membuat rumah di atas air yang biasa disebut "lanting".

"Ketika Pangeran Adipati naik ke darat, bertemulah dia dengan Kyai Gede seorang ulama penyebar agama Islam yang sudah lebih dulu tinggal di daerah itu," papar Rasyidin. Dan menurutnya, atas usulan Kyai Gede jugalah masyarakat sekitar yang dipimpin kepala suku, tidak perlu lagi membayar upeti ke Kerajaan Banjar, tapi ke Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memimpin langsung Kerajaan Kotawaringin sebagai raja pertamanya.

Kerajaan Kotawaringin yang berbasis Islam dengan didukung Kyai Gede sebagai Mangkubumi kerajaan, sebagaimana dipaparkan Gusti Djendro Suseno melakukan pencampuran dengan masyarakat suku asli yang masih menganut agama nenek moyang dan ini berlangsung hingga raja-raja berikutnya. Tercatat raja-raja yang berkuasa setelah kepemimpinan Pangeran Adipati Anta Kasuma. Pangeran Mas Adipati putra Pangeran Anta Kasuma yang menggantikan ayahndanya setelah wafat, berkuasa dari 920-941 H. Kemudian Pangeran Panambahan Anum (942-975 H), Pangeran Prabu Anum (975-1005 H), Pangeran Adipati Anum (1005-1050 H), Pangeran Penghulu (1050-1069 H), Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan (1069-1116 H), Gusti Musaddam Gelar Pangeran Ratu Anum Kusuma (1116-1171 H).

Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika ibukota kerajaan pindah ke Pangkalan Bun di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu Imanuddin, yang menurut Djendro Suseno, pemerintahannya sangat pro pada pihak Belanda. Sehingga hubungannya dengan orang-orang Kotawaringin Lama menjadi tidak harmonis, karena Kotawaringin lama sangat kontra dengan penjajah Belanda.

Setelah kepemimpinan Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin, menyusul bertahta Pangeran Ratu Achmad Hermansyah (1265-1281 H), Gusti Muhammad Sanusi Gelar Pra kasuma Yudha (1265-1281 H), Pangeran Pakusukma Negara (1281-1325 H), Pangeran Samudra Gelar Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (1325-1332 H) dan Pangeran Muhammad Gelar Pangeran Ratu Kasuma Anum Alamsyah (1332-1350 H).

"Pemindahan ibukota kerajaan ke Pangkalan Bun ini yang dijadikan sebagai titik tolak lahirnya Kabupaten Kotawaringin Barat, tahun 1679 M yang terbagi atas Kec Arut Selatan, Delang, Lamandau, Kotawaringin Lama, Arut Utara, dan Balai Lama," lanjutnya bernada miris karena sejarah yang sepertinya tidak berpihak pada pendahulunya. 



Sekedar Berbagi,Semoga Bermanfaat
Salam Sahabat Bloggers Indonesia

Posted By Suliy Ansyah 10:21 PM

Cara Stop Kemalasan

Filled under:

 
Rasanya banyak diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun dari tempat tidur, malas pergi olahraga, malas menyelesaikan tugas kantor, dll.

Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang. Contohnya saja ketika Anda malas dari bangun, Anda akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Anda akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.

Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Anda menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Anda tidak sukai, misalnya.

Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Anda harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Anda juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.

Dalam beberapa hal, Anda pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Anda mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan = Anda malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.

Di artikel ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas. Tips ini bisa Anda praktekkan di tempat kerja ataupun lingkungan keluarga:

Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”

Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Anda sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.

Katakan setiap kali Anda bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan Anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas didepan Anda dengan bertindak positif. Fokus Anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.

Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”

Berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.

Satu tip yang bisa Anda gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan pekerjaan yang Anda tidak mau.

Anda mau mengerjakan tugas karena memang Anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Anda melakukan apa saja yang Anda tidak mau lakukan.

Anda Bukan Manusia Sempurna

Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa Anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.

Dalam konteks pekerjaan, Anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan boss Anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.

Saya harap tulisan ini berguna. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.
 
Penulis
Al Falaq Arsendatama

Posted By Suliy Ansyah 5:23 PM