Sejarah Kotawaringin Kembali Digali

Filled under:



TIGA PENELITI: Tiga peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, dari kiri Dra Juniar Purba MSi, Dra Hendrawati dan Dra Lisyawati Nurcahyani MSi, di kantor redaksi Borneonews-Palangka Post, Pangkalan Bun, Sabtu (5/4).

SEJARAH Kotawaringin kembali digali dan dipertanyakan. Kapankah kali pertama istilah Kotawaringin muncul? Siapakah sebenarnya Kiai Gede? Bagaimana mula penyebaran Islam di Kotawa-ringin? Budaya mana saja yang mempengaruhinya? Bagaimana tatanan nilai satu-satunya kerajaan yang sejauh ini diketahui bukti keberadaannya di Kalimantan Tengah ini? 
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba ditelusuri Tim Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, Kalimantan Barat, yang membawahi seluruh Kalimantan. Peneliti Sejarah Penyebaran dan Perkembangan Islam di Kotawaringin, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu menjadi tamu dalam diskusi di Kantor Redaksi Borneonews-Palangka Post, di Pangkalan Bun, Sabtu (5/4) pagi. Tim terdiri dari Dra Lisyawati Nurcahyani MSi, Dra Juniar Purba MSi dan Dra Hendrawati.

Hendrawati mengungkapkan mereka bermaksud melakukan penelitian seobjektif mungkin, yang hasilnya benar-benar mendekati kebenaran. “Sejarah itu penafsiran. Tapi minimal mendekati kebenaran,” ujarnya. Hal ini memang penting karena hasil dari riset ini, se­perti dijelaskan Lisyawati, untuk pelestarian nilai budaya yang sifatnya edukatif. “Golnya adalah pendidikan,” tegas Lisyawati. 

Namun, mereka menyadari, untuk menggapai maksud tersebut bukan pekerjaan mudah, mengingat masih banyaknya tabir yang belum terungkap dalam sejarah Kotawaringin. Dalam hal penamaan saja, bisa ditafsirkan secara kontroversial. “Satu yang jelas Kotawaringin itu yang menamakan bukan Pangeran Antakusuma,” ungkap Hendrawati. Dalam diskusi disinggung nama ini telah ada dua-tiga abad sebelum Kerajaan Kotawaringin berdiri, seperti tersebut dalam Kitab Negarakertagama sebagai wilayah di bawah naungan Majapahit. Merujuk sumber itu, sebelum Kerajaan Kotawaringin berdiri, wilayah Kotawaringin bisa diartikan bukan daerah tak bertuan.

Masih soal nama. Kotawa-ringin dahulu disebut Kuta-ringin. Yang jadi pertanyaan tim peneliti, penamaan ini karena pengaruh dari luar wilayah Kotawaringin atau memang bersumber dari khasanah lokal. Sepintas lalu, istilah Kutaringin, itu se­perti dari tanah Jawa. Namun, Lisyawati mengungkapkan kemungkinan lain. Pihaknya sedang menyelidiki kata Kuta yang menurutnya bisa jadi ada dalam khasanah bahasa Dayak.

Tabir lain yang belum jelas, misalnya, soal sosok Kiai Gede. Merujuk nama, kuat dugaan ia dari Jawa. Tapi, kata Lis-yawati, juga belum jelas kapan dan bagaimana sosok ini hadir di Kotawaringin. “Apakah dia asli atau pendatang. Dari Kaharingan atau memang Islam sejak awal.” Poin menarik yang dipaparkan tim peneliti, interaksi Kerajaan Kotawaringin de­ngan komunitas budaya di Kalimantan bagian Barat. Selama ini, Kotawaringin memang identik dengan Kerajaan Banjar. Tetapi dinamika masyarakatnya, ungkap Lisyawati juga berhubungan dengan wilayah bagian Barat, seperti dengan Melawi. 

Sumber: 
http://borneonews.co.id/index.php/hiburan/travelista/item/13299-kotawaringin-bukan dari-antakusuma

0 comments :

Post a Comment